SEKILAS INFO
: - Sunday, 09-05-2021
  • 3 bulan yang lalu / Mari bergabung dengan kami MA. DARUTTAQWA Suci Manyar Gresik
  • 3 bulan yang lalu / Penerimaan Peserta Didik Baru Tahun Pelajaran 2021/2022 https://ppdb.madagresik.sch.id/
  • 10 bulan yang lalu / Selamat Datang di Website Resmi MADRASAH ALIYAH DARUTTAQWA Suci Manyar Gresik
Sejarah Berdirinya Pondok Pesantren Daruttaqwa

Sejarah Berdirinya Pondok Pesantren Daruttaqwa

Pada tahun  1875 M. datang seorang jejaka muslim yang shalih ke desa Suci Manyar Gresik untuk melaksanakan dakwa Islamiyah, Mbah Brojo namanya. Beliau berasal dari daerah “ Soca ” Bangkalan Madura. Beliau merupakan salah satu keturunan Mbah Buyut Emas yang masih cucu dari dari Maulana Raden Paku (Sunan Giri). Penduduk Desa Suci pada waktu itu masih banyak yang berkebiasaan kurang bahkan tidak baik, misalnya berjudi, sabung ayam dan mabuk-mabukan.

Di desa Suci Manyar Gresik, Mbah Brojo membangun sebuah Langgar (Musholla) yang dikenal dengan sebutan Langgar Mbah Brojo, yang merupakan langgar pertama di desa ini dan masih ada sampai sekarang. Di langgar ini Mbah Brojo membimbing masyarakat. Di langgar ini Mbah Brojo membimbing masyarakat Suci untuk melaksanakan ajaran Islam. Dengan kesabaran dan ketekunan Mbah Brojo dalam membimbing masyarakat Suci akhirnya mereka menjadi masyarakat yang benar-benar taat dalam menjalankan ajaran Islam. Di samping itu, beliau juga berusaha menyiarkan dan membimbing ajaran agama Islam terhadap masyarakat di luar Desa Suci sampai ke daerah Cerme, Benjeng, Balungpanggang.

Setelah kurang lebih 10 tahun Mbah Brojo dengan tekun mengajarkan dan membimbing masyarakat Suci dan sekitarnya, Beliau menikah dengan seorang puteri keturunan Sunan Drajat, Mbah Nyai Sihhah namanya, dan dari perkawinan ini beliau dikaruniai 2 anak, yakni:

  1. Mbah K. Sholeh (menantu mbah K. Abdul Jabbar) Dukun Sidayu, saudara tua KH. Faqih Maskumambang.
  2. Mbah Nyai Maryam, yang akhirnya menikah dengan Mbah K.H. Ismail. Mbah K.H. Ismail ini yang membantu perjuangan Mbah Brojo dalam menyiarkan dan membimbing ajaran agama Islam pada masyarakat suci dan sekitarnya.

Perkawinan Mbah Nyai Maryam dengan Mbah K.H. Ismail akhirnya dikaruniai dua anak, yakni Mbah Nyai Mas’amah dan Mbah Nyai Dewi Muslihah. Mbah Nyai Mas’amah menikah dengan K.H. Kholil dari Manyar. K.H. Kholil adalah salah satu santri Kyai Khozin Podok Pesantren Langitan Widang Tuban Lamongan dan melanjutkan untuk nyantri kepada Kyai Kholil Bangkalan selama 13 tahun. Setelah pulang, beliau meneruskan perjuangan Mbah Brojo dan Mbah K.H. Ismail di Suci Manyar Gresik.

Pada tahun 1932 M, K.H. Kholil (Suci) membangun pesantren yang dikenal dengan sebutan  ‘’Pesantren Kyai Kholil ” Suci Manyar Gresik. Di pesantren  ini, K.H. Kholil di samping mengajarkan ilmu-ilmu agama juga mengajarkan ilmu bela diri dan beliau bergabung dengan pasukan “ Hizbullah ” yang berjasa dalam mengusir penjajah dari Indonesia tercinta ini. Alumni pondok Pesantren K.H. Kholil Suci Manyar Gresik ini telah banyak tersebar di daerah Gresik dan sekitarnya, Misalnya daerah Cerme, Balung Panggang, Benjeng, Duduk Sampyan, Manyar, Kota Gresik, Giri, Lamongan dan lebih banyak lagi di desa Suci sendiri, termasuk K.H. Faqih pendiri Pondok Pesantren Mambaus Sholihin Suci Manyar Gresik. Namun setelah K.H. Kholil wafat ( Tahun 1961 M ), dari putera-puteri beliau tidak ada yang meneruskan perjuangan dalam bidang kepesantrenan, hanya tinggal langgar ( Musholla) peninggalan dari  beliau saja.

Akhirnya, pada tahun 1987 M, salah satu dari cucu K.H. Kholil, bernama K.H. Moh. Munawwar Ibn. Adnan Ibn. Kholil yang sedang dan sudah berkhidmat untuk nyantri selama 20 tahun dipangkuan Shohibul Fadlilah wal Karomah K.H. Utsman al-Ishaqi al-Maghfur lahu, Rahimahullahu Ta’ala, di Pondok Pesantren Jati Purwo Sawa Pulo Surabaya, mendapatkan perintah gurunya (K.H. Utsman beserta para puteranya; K .H. Ahmad Asrori, K.H. Fathul Arifin dan K.H. Minanur Rahman) untuk melanjutkan perjuangan K.H. Kholil dengan mendirikan Pondok Pesantren di desa Suci Manyar Gresik.

Hal itu dimaksudkan untuk menyelamatkan peninggalan dan meneruskan perjuangan para Kyai, sesepuh pendahulunya. Sebagai “ Murid ” yang selalu berusaha berta’dhim dan berkeinginan untuk mendapat ilmu yang bermanfaat, K.H. Moh. Munawwar hanya pasrah menerima dan melaksanakan perintah gurunya.

TINGGALKAN KOMENTAR

× Hubungi kami?